18 Agustus 2011

Penyebaran pesan doa Jibril menjelang bulan Ramadhan

Berita tentang pesan Jibril menjelang bulan Ramadhan saya terima dua
kali pada waktu yang berdekatan:
pertama muncul di Yahoo! Messenger dan kedua di milis. Isi pesan
tersebut adalah permintaan Jibril agar Nabi Muhammad mengamini doa
yang dipanjatkan Jibril, lengkapnya sebagai berikut,
Ketika Rasullullah sedang berhotbah pada suatu Sholat Jum'at (dalam
bulan Sya'ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para
sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamin, terkejut dan
spontan mereka ikut mengatakan Aamin. Tapi para sahabat bingung,
kenapa Rasullullah berkata Aamin sampai tiga kali.

Ketika selesai sholat Jum'at, para sahabat bertanya kepada
Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: "ketika aku sedang
berhotbah, datanglah Malaikat Zibril dan berbisik, hai Rasullullah
aamin-kan do'a ku ini," jawab Rasullullah.

Do'a Malaikat Zibril itu adalah sbb:
"Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum
memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
*Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada)
*Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri.
*Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya."

Maka Rasullullah pun mengatakan Aamin sebanyak 3 kali. Dapat kita
bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-aminkan adalah
Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum'at. Tentunya
do'a tersebut akan didengar oleh Allah swt."

Bagian yang janggal : (dikutip dari tulisan di #direktif, dan di
milis De Gromiest)

1. Mengapa malaikat Jibril dalam pesan tersebut digambarkan menambahi
syarat berpuasa, dengan ancaman puasa yang tidak diawali dengan tiga
syarat yang dikemukakan minta diabaikan oleh Allah. Sepengetahuan saya
ketiga syarat di atas belum pernah disebutkan sebagai syarat ibadah
puasa dalam agama Islam.
2. kenapa Jibril menyulitkan seseorang untuk berpuasa? Bukankah
perintah di dalam Al Quran sangat sederhana: "berpuasalah kalian
seperti umat-umat terdahulu"?
3. bentuk perintah di atas adalah mementahkan amal ibadah bulan puasa
("tolong abaikan"). Kalau seandainya berupa perintah untuk
bermaaf-maafan, oke... itu sangat wajar,sudah menjadi keharusan kita
untuk saling bermaafan. Tapi jika menjadi keharusan dengan konsekuensi
khusus terhadap ibadah puasa? Hmm... kelihatannya janggal.

Penjelasan oleh Ust. Abu Abdillah :

Dari Ramadhan ke Ramadhan masalah ini sering sekali ditanyakan, dan
hadits yang anda tanyakan, saya dapatkan dalam kitab Sifat Puasa Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang ditulis oleh Syaikh Salim bin Ied
Al-Hilaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.

Namun setelah saya perhatikan dengan apa yang anda tulis diatas,
ternyata redaksi dan maksudnya jauh berbeda.

Untuk lebih jelasnya, makna hadits tersebut bisa anda baca salinan di bawah ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata,
"Amin, Amin, Amin." Ditanyakan kepadanya, "Ya Rasulullah, engkau naik
mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?" Beliau bersabda,
"Artinya : Sesungguhnya Jibril 'Alaihis salam datang kepadaku, dia
berkata, "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak
diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia,
katakan "Amin", maka akupun mengucapkan Amin...."

[Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan
Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya
terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari
beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan
hal.25-34 karya Ibnu Syahin]

Disalin dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, hal.
27-28, Pustaka Al-Haura.

Yang lebih lengkap lagi akan saya salinkan dari buku Birrul Walidain
oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul
Qalam. Artinya: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar
kemudian berkata, "Amin, amin, amin". Para sahabat bertanya. "Kenapa
engkau berkata 'Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?" Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang malaikat Jibril dan ia
berkata : 'Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau
namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!' maka
kukatakan, 'Amin', kemudian Jibril berkata lagi, 'Celaka seseorang
yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak
diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!', maka aku berkata :
'Amin'. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata lagi.
'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah
seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia
ke surga dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin".

[Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153
dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin
Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644
(Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah)]

Dengan demikian, hadist diatas tidak ada hubungan dengan keharusan
bermaafan sebelum puasa Ramadhan.

Meminta maaf dan memaafkan seseorang dapat dilakukan kapan saja, dan
tidak ada tuntunan syari'at harus dikumpulkan dulu dan menunggu sampai
menjelang bulan Ramadhan.
ditulis oleh : Checev Rizwhanda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar